Senin, 13 Mei 2013

1 Muharom Vs 1 Suro


A.   LATAR BELAKANG
Jawa dan kejawen seolah tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Kejawen bisa jadi merupakan suatu sampul atau kulit luar dari beberapa ajaran yang berkembang di Tanah Jawa, semasa zaman Hinduisme dan Budhisme. Dalam perkembangannya, penyebaran islam di Jawa juga dibungkus oleh ajaran-ajaran terdahulu, bahkan terkadang melibatkan aspek kejawen sebagai jalur penyeranta yang baik bagi penyebarannya.
Salah satu bukti kekayaan Indonesia terdapat pada malam 1 Suro. Banyak perayaan budaya terepresentasikan oleh masyarakat terutama mayarakat Jawa. Perdebatan terjadi terutama oleh para pengemban misi dakwah islam dengan penganut “kepercayaan” yang memegang keyakinan pada banyak hal.
Maka dari itu dalam makalah kali ini akan sedikit diulas tentang perbedaan makna dalam ritual yang dijalani pada tanggal 1 Muharrom dan 1 Suro.

B.   RUMUSAN MASALAH
1.    1 Muharrom
2.    1 Suro
3.    Peringatan 1 Suro
4.    Dakwah Islam

C.   PEMBAHASAN
1.    1 Muharrom
Bulan Muharrom Adalah Bulan Yang Mulia. Allah SWT berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ...(٣٦)

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram][1]. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri[2] kamu dalam bulan yang empat itu”. (QS At Taubah : 36)
Imam Ath-Thabari berkata, “Bulan itu ada dua belas, empat diantaranya merupakan bulan haram (mulia), dimana orang-orang jahiliyah dahulu mengagungkan dan memuliakannya. Mereka mengharamkan peperangan pada bulan tersebut. Sampai seandainya ada seseorang bertemu dengan orang yang membunuh ayahnya maka dia tidak akan menyerangnya. Bulan yang empat itu adalah Rajab Mudhor, dan tiga bulan berurutan, yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharrom. Dengan ini nyatalah kabar yang disabdakan oleh Rasulullah SAW”. Kemudian At-Thabari meriwayatkan beberapa hadits, diantaranya hadits dari sahabat Abu Bakrah, yang diriwayatkan Imam Bukhari (no. 4662), Rasulullah SAW bersabda :
“Wahai manusia, sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana keadaan ketika Allah SWT menciptakan langit dan bumi, dan sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ada dua belas bulan, diantaranya terdapat empat bulan haram, pertamanya adalah Rajab Mudhor, terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban, kemudian Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharrom”. (Jami’ul Bayan 10/124-125).
Qotadah berkata, “Amalan shalih pada bulan haram pahalanya sangat agung dan perbuatan dhzalim di dalamnya merupakan kedhzaliman yang besar pula dibanding pada bulan selainnya, walaupun yang namanya kedhzaliman itu kapanpun merupakan dosa yang besar”. (Ma’alimut Tanzil 4/44-45).
Pada bulan Muharrom ini terdapat hari yang pada hari itu terjadi peristiwa yang besar dan pertolongan yang nyata, menangnya kebenaran mengalahkan kebathilan, dimana Allah SWT telah menyelamatkan Nabi Musa AS dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya. Hari tersebut mempunyai keutamaan yang agung dan kemuliaan yang abadi sejak dulu. Dia adalah hari kesepuluh yang dinamakan Asyura. (Durusun ‘Aamun, Abdul Malik Al-Qasim, hal.10)

2.    1 Suro
Orang orang tradisional Jawa yang tinggal di Jawa maupun bagian lain Indonesia banyak yang merayakan 1 Suro yang dipandang sebagai hari sakral. Secara tradisi turun temurun, kebanyakan orang  mengharapkan ngalap berkah (mendapatkan berkah) pada hari besar yang suci ini. Pada malam 1 Suro, biasanya orang melakukan laku prihatin untuk tidak tidur semalam suntuk atau selama 24 jam.
1 Suro adalah tahun baru menurut kalender Jawa. Berbeda dengan perayaan tahun baru kalender Masehi yang setiap tanggal 1 Januari dirayakan dengan nuansa pesta, orang Jawa tradisional lebih menghayati nuansa spiritualnya.
Pemahamannya adalah tanggal 1 pada tahun baru Jawa diperingati sebagai saat dimulainya adanya kehidupan baru. Umat manusia dari lubuk hati terdalam manembah (menghormati) kepada Yang Satu, Yang Tunggal, Yang Esa, yang mula-mula menciptakan seluruh alam raya ini dengan semua isinya, termasuk manusia, yaitu Gusti, Tuhan yang Maha Esa.
Oleh karena itu peringatan 1 Suro selalu berjalan dengan khusuk, orang-orang membersihkan diri lahir batin, melakukan introspeksi, mengucap syukur kepada Gusti, Yang Membuat Hidup dan Menghidupi, yang telah memberi kesempatan kepada kita semua untuk lahir, hidup dan berkiprah di dunia ini.
Menyadari atas kesempatan teramat mulia yang diberikan oleh Sang Pencipta, maka sudah selayaknya manusia selaku titah menjalankan kehidupan di dunia yang waktunya terbatas ini, dengan berbuat yang terbaik, tidak hanya untuk dirinya sendiri dan keluarga terdekatnya, tetapi untuk sesama mahluk Tuhan dengan antara lain melestarikan jagad ini, istilah kejawennya adalah Memayu Hayuning Bawono. Tidak salah jagad harus dilestarikan, karena kalau jagad rusak, di dunia ini tidak ada kehidupan.
Pemahaman ini telah sejak jaman kabuyutan di Jawa, di masa kuno makuno, telah dengan sadar dan disadari sepenuhnya oleh para pinisepuh kita.
Perayaan 1 Suro bisa dilakukan di banyak tempat dan dengan berbagai cara. Itu tergantung dari kemantapan batin yang menjalani dan bisa juga sesuai dengan tradisi masyarakat setempat.

3.    Peringatan Satu Suro
Pada dasarnya, orang tradisional Jawa senang kepada kebatinan, senang melakukan tirakat seperti ngurang-ngurangi (membatasi) akan hal-hal yang bersifat kebutuhan atau kesenangan duniawi, supaya mendapatkan ketenangan hidup dan pencerahan spiritual.
Sebelum bersembahyang orang-orang akan membersihkan raga dan jiwa dengan jalan mandi suci dan berpuasa sekuatnya dan selama itu berusaha supaya berpikiran baik, menghindari perkataan dan perbuatan kotor. Biasanya juga dibarengi dengan mengurangi tidur dengan cara tidur hanya sekali sehari yaitu sesudah jam 12.00 malam dan bangun sebelum matahari terbit.
Banyak cara untuk memperingati pergantian tahun baru hijriyah atau malem siji suro tersebut. Diantaranya sebagai berikut :
·           Pengajian
Sebagai salah satu hari besar keagamaan, banyak pihak yang memperingatinya melalui kajian baik dalam skala kecil maupun besar. Salah satu tujuannya jelas untuk memberi motivasi agar tahun esok dapat dilalui dengan lebih baik daripada tahun sebelumnya.
·           Ritual Mistis
Ini biasa dilangsungkan oleh masyarakat adat seperti halnya kelompok kepercayaan maupun keraton. Misalnya keraton Surakarta yang mengadakan kirab pusaka keraton dengan menjadikan Kebo Bule Kiai Slamet untuk memimpin kirab. Sementara keraton Yogyakarta akan melaksanakan ritual Mubeng Beteng. Sementara itu di daerah lain, banyak sendang maupun waduk yang diyakini memiliki kemampuan magis dijadikan sebagai lokasi ritual, mulai ritual mandi kembang hingga ngumbah gaman (mencuci pusaka).
·           Konvoi Jalanan
Di beberapa daerah, banyak organisasi yang menjadikan malam satu suro sebagai agenda tahunan untuk ngumpul bersama. Salah satunya yang biasa terjadi di daerah Madiun, dimana salah satu kelompok persilatan melaksanakan reuni akbar yang otomatis seluruh anggotanya yang berasal dari berbagai daerah berduyun-duyun datang sembari melaksanakan konvoi yang tidak jauh dari kata “brutal”. Bahkan, lebih brutal dari cerita kebrutalan geng motor. Mulai suara kenalpot yang merusak telinga, tidak mengindahkan peraturan lalu lintas, hingga siap menghajar siapa saja yang dianggap menghalangi atau mengganggu perjalanannya.

4.    Dakwah Islam
Kegiatan pada tanggal 1 Muharrom yang masih sesuai dengan syari’at agama Islam seperti pengajian memang tak perlu di permasalahkan. Tetapi keyakinan yang terkait dengan Kebo Bule Kiai Slamet, Jamasan, pusaka-pusaka tertentu dan sebaginya, ini merupakan keyakinan yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Hal ini karena pelaku ngalap berkah yang seperti itu, mempunyai keyakinan bahwa ada dzat lain yang mampu mendatangkan keselamatan/berkah serta menolak bahaya selain Allah SWT. Dalam Al Qur’an Allah SWT menerangkan :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ (٣٨)

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka : ”Siapakah yang menciptakan langit dan bumi”, niscaya mereka menjawab : “Allah”. Katakanlah : ”Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya. Katakanlah : “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” (QS. Az-Zumar: 38)
Ibadah apa pun bentuknya adalah haram diperuntukkan kepada selain Allah SWT. Dan tawakkal, istighatsah (minta keselamatan), isti’anah (minta pertolongan), takut dan mengharap adalah ibadah, dan yang lain sebagainya dari macam-macam ibadah semuanya hanya untuk Allah SWT. Inilah prinsip tauhid, yaitu memurnikan ibadah hanya kepada Allah SWT semata, yang menjadi landasan paling mendasar di dalam Islam. Barangsiapa yang melanggarnya maka ia jatuh ke dalam kesyirikan. Kecil atau besar-nya kesyirikan tersebut tergantung jenis pelanggarannya.
Dan sudah merupakan prinsip agama ini bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Dzat yang berhak di-ibadahi. Setiap peribadahan kepada selain Allah SWT adalah ibadah yang batil dan pelakunya terancam kekal di neraka jahannam apabila tidak bertaubat dari perbuatannya. Allah SWT berfirman :
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ  

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Rabb) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. Al Hajj: 62).
Barangsiapa yang menyelewengkan ibadah tersebut untuk selain Allah SWT, maka ia adalah orang musyrik dan kafir. Firman Allah Ta’ala SWT :

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

“Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain di samping (menyembah) Allah, padahal tidak ada satu dalilpun baginya tentang itu, maka benar-benar balasannya ada pada Tuhannya. Sungguh tiada beruntung orang-orang kafir itu.” (QS. Al-Mu’minun : 117).
Dan Allah SWT menjelaskan bahwa pelaku kesyirikan kekal di neraka jahannam pada ayat-Nya,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah SWT, maka pasti Allah SWT mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (QS. Al Maidah: 72)

D.   KESIMPULAN
Bulan Muharram atau dikenal dengan Suro merupakan bulan yang mulia. Maka tidak sepantasnya apabila kaum muslimin mempunyai anggapan miring terhadapnya, dengan menjadikan sebagai bulan keramat. Sehingga menyeret mereka jatuh ke lembah kesyirikan, dengan melakukan acara-acara yang merupakan cerminan dari keyakinan mereka yang keliru. Akibatnya dosa yang disandang semakin banyak karena dilakukan pada bulan yang mulia.




[1]      Maksudnya antara lain ialah: bulan Haram (bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharrom dan Rajab), tanah Haram (Mekah) dan ihram
[2]      Maksudnya janganlah kamu menganiaya dirimu dengan mengerjakan perbuatan yang dilarang, seperti melanggar kehormatan bulan itu dengan mengadakan peperangan

Kode Smiley Untuk Komentar


:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m