A.
LATAR
BELAKANG
Jawa dan kejawen seolah tidak dapat
dipisahkan satu dengan lainnya. Kejawen bisa jadi merupakan suatu sampul atau
kulit luar dari beberapa ajaran yang berkembang di Tanah Jawa, semasa zaman
Hinduisme dan Budhisme. Dalam perkembangannya, penyebaran islam di Jawa juga
dibungkus oleh ajaran-ajaran terdahulu, bahkan terkadang melibatkan aspek
kejawen sebagai jalur penyeranta yang baik bagi penyebarannya.
Salah satu bukti kekayaan Indonesia
terdapat pada malam 1 Suro. Banyak perayaan budaya terepresentasikan oleh
masyarakat terutama mayarakat Jawa. Perdebatan terjadi terutama oleh para
pengemban misi dakwah islam dengan penganut “kepercayaan” yang memegang
keyakinan pada banyak hal.
Maka dari itu dalam makalah kali ini
akan sedikit diulas tentang perbedaan makna dalam ritual yang dijalani pada
tanggal 1 Muharrom dan 1 Suro.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
1
Muharrom
2.
1
Suro
3.
Peringatan
1 Suro
4.
Dakwah
Islam
C.
PEMBAHASAN
1.
1
Muharrom
Bulan Muharrom Adalah Bulan Yang
Mulia. Allah SWT berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ
عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ
السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ
فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ...(٣٦)
“Sesungguhnya
bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di
waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram][1]. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah
kamu Menganiaya diri[2] kamu dalam bulan yang empat itu”. (QS At Taubah : 36)
Imam Ath-Thabari berkata, “Bulan itu ada dua belas,
empat diantaranya merupakan bulan haram (mulia), dimana orang-orang
jahiliyah dahulu mengagungkan dan memuliakannya. Mereka mengharamkan peperangan
pada bulan tersebut. Sampai seandainya ada seseorang bertemu dengan orang yang
membunuh ayahnya maka dia tidak akan menyerangnya. Bulan yang empat itu adalah Rajab
Mudhor, dan tiga bulan berurutan, yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah
dan Muharrom. Dengan ini nyatalah kabar yang disabdakan oleh Rasulullah
SAW”. Kemudian At-Thabari meriwayatkan beberapa hadits, diantaranya hadits dari
sahabat Abu Bakrah, yang diriwayatkan Imam Bukhari (no. 4662), Rasulullah SAW
bersabda :
“Wahai manusia, sesungguhnya zaman itu berputar
sebagaimana keadaan ketika Allah SWT menciptakan langit dan bumi, dan
sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ada dua belas bulan, diantaranya
terdapat empat bulan haram, pertamanya adalah Rajab Mudhor, terletak antara
Jumadal (akhir) dan Sya’ban, kemudian Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharrom”. (Jami’ul
Bayan 10/124-125).
Qotadah berkata, “Amalan shalih pada bulan haram
pahalanya sangat agung dan perbuatan dhzalim di dalamnya merupakan kedhzaliman
yang besar pula dibanding pada bulan selainnya, walaupun yang namanya
kedhzaliman itu kapanpun merupakan dosa yang besar”. (Ma’alimut Tanzil 4/44-45).
Pada bulan Muharrom ini terdapat hari yang pada
hari itu terjadi peristiwa yang besar dan pertolongan yang nyata, menangnya
kebenaran mengalahkan kebathilan, dimana Allah SWT telah menyelamatkan Nabi
Musa AS dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya. Hari tersebut
mempunyai keutamaan yang agung dan kemuliaan yang abadi sejak dulu. Dia adalah
hari kesepuluh yang dinamakan Asyura. (Durusun ‘Aamun, Abdul Malik
Al-Qasim, hal.10)
2.
1
Suro
Orang orang tradisional Jawa yang
tinggal di Jawa maupun bagian lain Indonesia banyak yang merayakan 1 Suro yang
dipandang sebagai hari sakral. Secara tradisi turun temurun, kebanyakan
orang mengharapkan ngalap berkah
(mendapatkan berkah) pada hari besar yang suci ini. Pada malam 1 Suro, biasanya
orang melakukan laku prihatin untuk tidak tidur semalam suntuk atau
selama 24 jam.
1 Suro adalah tahun baru menurut
kalender Jawa. Berbeda dengan perayaan tahun baru kalender Masehi yang setiap
tanggal 1 Januari dirayakan dengan nuansa pesta, orang Jawa tradisional lebih
menghayati nuansa spiritualnya.
Pemahamannya adalah tanggal 1 pada
tahun baru Jawa diperingati sebagai saat dimulainya adanya kehidupan baru. Umat
manusia dari lubuk hati terdalam manembah (menghormati) kepada Yang Satu,
Yang Tunggal, Yang Esa, yang mula-mula menciptakan seluruh alam raya ini dengan
semua isinya, termasuk manusia, yaitu Gusti, Tuhan yang Maha Esa.
Oleh karena itu peringatan 1 Suro
selalu berjalan dengan khusuk, orang-orang membersihkan diri lahir batin,
melakukan introspeksi, mengucap syukur kepada Gusti, Yang Membuat Hidup dan
Menghidupi, yang telah memberi kesempatan kepada kita semua untuk lahir, hidup
dan berkiprah di dunia ini.
Menyadari atas kesempatan teramat mulia
yang diberikan oleh Sang Pencipta, maka sudah selayaknya manusia selaku titah
menjalankan kehidupan di dunia yang waktunya terbatas ini, dengan berbuat yang
terbaik, tidak hanya untuk dirinya sendiri dan keluarga terdekatnya, tetapi
untuk sesama mahluk Tuhan dengan antara lain melestarikan jagad ini, istilah
kejawennya adalah Memayu Hayuning Bawono. Tidak salah jagad harus
dilestarikan, karena kalau jagad rusak, di dunia ini tidak ada kehidupan.
Pemahaman ini telah sejak jaman kabuyutan
di Jawa, di masa kuno makuno, telah dengan sadar dan disadari sepenuhnya
oleh para pinisepuh kita.
Perayaan 1 Suro bisa dilakukan di banyak
tempat dan dengan berbagai cara. Itu tergantung dari kemantapan batin yang
menjalani dan bisa juga sesuai dengan tradisi masyarakat setempat.
3.
Peringatan
Satu Suro
Pada dasarnya, orang tradisional Jawa
senang kepada kebatinan, senang melakukan tirakat seperti ngurang-ngurangi
(membatasi) akan hal-hal yang bersifat kebutuhan atau kesenangan duniawi,
supaya mendapatkan ketenangan hidup dan pencerahan spiritual.
Sebelum bersembahyang orang-orang akan
membersihkan raga dan jiwa dengan jalan mandi suci dan berpuasa sekuatnya dan
selama itu berusaha supaya berpikiran baik, menghindari perkataan dan perbuatan
kotor. Biasanya juga dibarengi dengan mengurangi tidur dengan cara tidur hanya
sekali sehari yaitu sesudah jam 12.00 malam dan bangun sebelum matahari terbit.
Banyak cara untuk memperingati
pergantian tahun baru hijriyah atau malem siji suro tersebut. Diantaranya
sebagai berikut :
·
Pengajian
Sebagai
salah satu hari besar keagamaan, banyak pihak yang memperingatinya melalui
kajian baik dalam skala kecil maupun besar. Salah satu tujuannya jelas untuk
memberi motivasi agar tahun esok dapat dilalui dengan lebih baik daripada tahun
sebelumnya.
·
Ritual Mistis
Ini
biasa dilangsungkan oleh masyarakat adat seperti halnya kelompok kepercayaan
maupun keraton. Misalnya keraton Surakarta yang mengadakan kirab pusaka keraton
dengan menjadikan Kebo Bule Kiai Slamet untuk memimpin kirab. Sementara
keraton Yogyakarta akan melaksanakan ritual Mubeng Beteng. Sementara itu
di daerah lain, banyak sendang maupun waduk yang diyakini memiliki kemampuan
magis dijadikan sebagai lokasi ritual, mulai ritual mandi kembang hingga ngumbah
gaman (mencuci pusaka).
·
Konvoi Jalanan
Di
beberapa daerah, banyak organisasi yang menjadikan malam satu suro sebagai
agenda tahunan untuk ngumpul bersama. Salah satunya yang biasa terjadi di
daerah Madiun, dimana salah satu kelompok persilatan melaksanakan reuni akbar
yang otomatis seluruh anggotanya yang berasal dari berbagai daerah
berduyun-duyun datang sembari melaksanakan konvoi yang tidak jauh dari kata
“brutal”. Bahkan, lebih brutal dari cerita kebrutalan geng motor. Mulai suara
kenalpot yang merusak telinga, tidak mengindahkan peraturan lalu lintas, hingga
siap menghajar siapa saja yang dianggap menghalangi atau mengganggu
perjalanannya.
4.
Dakwah
Islam
Kegiatan pada tanggal 1 Muharrom yang
masih sesuai dengan syari’at agama Islam seperti pengajian memang tak perlu di
permasalahkan. Tetapi keyakinan yang terkait dengan Kebo Bule Kiai Slamet,
Jamasan, pusaka-pusaka tertentu dan sebaginya, ini merupakan keyakinan
yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Hal ini karena pelaku ngalap
berkah yang seperti itu, mempunyai keyakinan bahwa ada dzat lain yang mampu
mendatangkan keselamatan/berkah serta menolak bahaya selain Allah SWT. Dalam Al
Qur’an Allah SWT menerangkan :
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا
تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ
كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ
قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ (٣٨)
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada
mereka : ”Siapakah yang menciptakan langit dan bumi”, niscaya mereka menjawab :
“Allah”. Katakanlah : ”Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru
selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah
berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah
hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya. Katakanlah
: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah
diri.” (QS. Az-Zumar: 38)
Ibadah apa pun bentuknya adalah haram
diperuntukkan kepada selain Allah SWT. Dan tawakkal, istighatsah
(minta keselamatan), isti’anah (minta pertolongan), takut dan mengharap
adalah ibadah, dan yang lain sebagainya dari macam-macam ibadah semuanya hanya
untuk Allah SWT. Inilah prinsip tauhid, yaitu memurnikan ibadah hanya kepada
Allah SWT semata, yang menjadi landasan paling mendasar di dalam Islam.
Barangsiapa yang melanggarnya maka ia jatuh ke dalam kesyirikan. Kecil atau
besar-nya kesyirikan tersebut tergantung jenis pelanggarannya.
Dan sudah merupakan prinsip agama ini
bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Dzat yang berhak di-ibadahi. Setiap
peribadahan kepada selain Allah SWT adalah ibadah yang batil dan pelakunya
terancam kekal di neraka jahannam apabila tidak bertaubat dari perbuatannya.
Allah SWT berfirman :
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ
الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ
هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena
sesungguhnya Allah, Dialah (Rabb) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang
mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang
Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. Al Hajj: 62).
Barangsiapa yang menyelewengkan ibadah tersebut
untuk selain Allah SWT, maka ia adalah orang musyrik dan kafir. Firman Allah
Ta’ala SWT :
وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ
إِلَهًا آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ
إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
“Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain di
samping (menyembah) Allah, padahal tidak ada satu dalilpun baginya tentang itu,
maka benar-benar balasannya ada pada Tuhannya. Sungguh tiada beruntung
orang-orang kafir itu.” (QS. Al-Mu’minun : 117).
Dan Allah SWT menjelaskan bahwa pelaku kesyirikan
kekal di neraka jahannam pada ayat-Nya,
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ
قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا
بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ
بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا
لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu
dengan) Allah SWT, maka pasti Allah SWT mengharamkan kepadanya surga, dan
tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang
penolongpun”. (QS. Al Maidah: 72)
D.
KESIMPULAN
Bulan Muharram atau dikenal dengan Suro merupakan
bulan yang mulia. Maka tidak sepantasnya apabila kaum muslimin mempunyai
anggapan miring terhadapnya, dengan menjadikan sebagai bulan keramat. Sehingga
menyeret mereka jatuh ke lembah kesyirikan, dengan melakukan acara-acara yang
merupakan cerminan dari keyakinan mereka yang keliru. Akibatnya dosa yang
disandang semakin banyak karena dilakukan pada bulan yang mulia.
[1] Maksudnya
antara lain ialah: bulan Haram (bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharrom dan
Rajab), tanah Haram (Mekah) dan ihram
[2] Maksudnya
janganlah kamu menganiaya dirimu dengan mengerjakan perbuatan yang dilarang,
seperti melanggar kehormatan bulan itu dengan mengadakan peperangan





:k