Minggu, 29 September 2013

Aku Punya Teman Baru


Huh! Hari ini hari minggu. Hari yang biasanya banyak dihabiskan untuk bersenang-senang dan bersantai. Namun hari ini aku marah. Marah pada seisi rumah. Terutama pada Tami. Karena seharian ini Tami mengaturku. Aku tak boleh bermain ke luar rumah. Padahal di luar sana teman-temanku sudah menungguku untuk bermain seperti biasanya.
          Semua berawal saat aku sarapan. Aku heran, tak biasanya Tami di rumah hari minggu begini. Biasanya dia pergi berenang, ke rumah temannya, atau entah bermain kemana.
“Kamu mau jalan-jalan kemana, Tami?” tanya ayah Tami.
“Tami ingin di rumah saja, Pak” jawabnya. “Sudah lama Tami tidak bermain bersama Nene”
Aduh! Gerutuku sambil mengendap-endap berusaha keluar dari pintu belakang. Namun Tami lebih sigap. Segera ditutupnya pintu belakang. Dia mengajakku ke kamarnya.
Kamar Tami sebenarnya nyaman, bersih, luas, dan banyak mainan. Tapi kamar ini seperti penjara bagiku. Karena di kamar ini, Tami akan seenaknya mengatur dan memperlakukan aku semaunya.
Dia memaksaku ikut bermain. Seperti menyuruhku tiduran layaknya seorang pasien. Dan satu lagi permainan yang sangat aku benci, yaitu saat dia mendandani aku seperti putri. Memakaikanku jepit rambut di sana-sini. Menyemprotkan minyak wangi terlalu banyak. Dan sederet perlakuan yang aku tak suka.
Dan sekarang setelah dia puas, dia meninggalkanku begitu saja. Aku keluar dari kamarnya dan melihat Tami sedang menonton film kartun dengan suara keras. Aaaargh, dia anak yang menyebalkan. Itulah yang merusak hari mingguku kali ini. Dan aku marah. Sikap marahku kutunjukkan dengan tak menyentuh makan siangku. Aku malas makan. Kini ku hanya terduduk di tempat tidurku. Melamun tak jelas.
Melihat aku tak menyentuh makan siangku. Giliran ibu yang marah. Akhirnya ibu membawaku keluar rumah dan mengunci pintu dari dalam. Sekarang aku di luar. Bebas. Namun keinginanku untuk bermain dengan teman-temanku hilang entah kemana.
Kutelusuri jalan yang membawaku menuju pasar ikan. Di sana aku bertemu dengan seorang gadis cantik. Saat melihatku matanya langsung berbinar. Dia berlari menemui ibunya.
“Mak, boleh tidak Santi memelihara kucing ini?”
“Tentu saja boleh, Sayang. Tapi kamu harus janji untuk merawatnya dengan baik” jawab ibunya.
“Asyik. Santi sayang emak” ujar Santi sambil memelukku.
Akhirnya, kini aku menemukan teman baru. Aku bahagia menghadapi hari-hariku kini. Bersama dengan keluarga Santi yang baik hati.

Kode Smiley Untuk Komentar


:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m  

0 komentar:

Posting Komentar