Huh!
Hari ini hari minggu. Hari yang biasanya banyak dihabiskan untuk
bersenang-senang dan bersantai. Namun hari ini aku marah. Marah pada seisi
rumah. Terutama pada Tami. Karena seharian ini Tami mengaturku. Aku tak boleh
bermain ke luar rumah. Padahal di luar sana teman-temanku sudah menungguku
untuk bermain seperti biasanya.
Semua berawal saat aku sarapan. Aku
heran, tak biasanya Tami di rumah hari minggu begini. Biasanya dia pergi
berenang, ke rumah temannya, atau entah bermain kemana.
“Kamu
mau jalan-jalan kemana, Tami?” tanya ayah Tami.
“Tami
ingin di rumah saja, Pak” jawabnya. “Sudah lama Tami tidak bermain bersama
Nene”
Aduh!
Gerutuku sambil mengendap-endap berusaha keluar dari pintu belakang. Namun Tami
lebih sigap. Segera ditutupnya pintu belakang. Dia mengajakku ke kamarnya.
Kamar
Tami sebenarnya nyaman, bersih, luas, dan banyak mainan. Tapi kamar ini seperti
penjara bagiku. Karena di kamar ini, Tami akan seenaknya mengatur dan
memperlakukan aku semaunya.
Dia
memaksaku ikut bermain. Seperti menyuruhku tiduran layaknya seorang pasien. Dan
satu lagi permainan yang sangat aku benci, yaitu saat dia mendandani aku
seperti putri. Memakaikanku jepit rambut di sana-sini. Menyemprotkan minyak
wangi terlalu banyak. Dan sederet perlakuan yang aku tak suka.
Dan
sekarang setelah dia puas, dia meninggalkanku begitu saja. Aku keluar dari
kamarnya dan melihat Tami sedang menonton film kartun dengan suara keras.
Aaaargh, dia anak yang menyebalkan. Itulah yang merusak hari mingguku kali ini.
Dan aku marah. Sikap marahku kutunjukkan dengan tak menyentuh makan siangku. Aku
malas makan. Kini ku hanya terduduk di tempat tidurku. Melamun tak jelas.
Melihat
aku tak menyentuh makan siangku. Giliran ibu yang marah. Akhirnya ibu membawaku
keluar rumah dan mengunci pintu dari dalam. Sekarang aku di luar. Bebas. Namun
keinginanku untuk bermain dengan teman-temanku hilang entah kemana.
Kutelusuri
jalan yang membawaku menuju pasar ikan. Di sana aku bertemu dengan seorang
gadis cantik. Saat melihatku matanya langsung berbinar. Dia berlari menemui
ibunya.
“Mak,
boleh tidak Santi memelihara kucing ini?”
“Tentu
saja boleh, Sayang. Tapi kamu harus janji untuk merawatnya dengan baik” jawab
ibunya.
“Asyik.
Santi sayang emak” ujar Santi sambil memelukku.
Akhirnya,
kini aku menemukan teman baru. Aku bahagia menghadapi hari-hariku kini. Bersama
dengan keluarga Santi yang baik hati.






:k
0 komentar:
Posting Komentar